Jumat, 30 November 2012

POSITIVISTIK AUGUST COMTE



BAB I
Pendahuluan
Ada beberapa pendekatan masalah yang digunakan manusia untuk memahami, mengelola dan menghayati dunia beserta isinya. Pendekatan-pendekatan terebutadalah , pendekatan objektif dan pendekatan subjektif. Pendekatan subjektif atau pendekatan ilmiah (saintifik) diterapkan dalam penelitian yang sistematik, terkontrol,empiris, dan kritis atas hipotesis. Dalam konteks ini, pendekatan itu disebut “objektif” berdasarkan pandangan bahwa objek-objek, prilaku-prilaku, dan peristiwa-peristiwa eksis di suatu dunia “nyata” yang diamati oleh panca indra ,diukur, dan diramalkan.
Bagi seorang ilmuan penguasaan pendekatan ilmiah merupakan suatu keharusan dan bahkan mutlak perlu, karena tanpa pendekatan ilmiah tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah, sehingga mudah bagi seorang ilmuan untuk mengembangkanmateri pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah.
Oleh karena itulah pendekatan ilmiah penting untuk mengetahui seberapa jauh penalaran kita terhadap hal-hal yang jelas dan objektif.Yang pada makalah ini akan di bahas pendekatan ilmiah positivistik.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi
August Comte atau juga Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai "bapaksosiologi". Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial.
Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya diPoliteknik École di Paris. Politeknik École saat itu terkenal dengan kesetiaannya kepada idealis republikanisme dan filosofi proses. Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
Tak lama kemudian, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian pada bulan Agustus 1817 dia menjadi murid sekaligus sekertaris dari Claude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya: meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya.[1]
B.     Pengertian Dan Pendekatan Positivistik.
Positivisme berasal dari kata “positif” yang artinya faktuual, sesuatu yang berdasar fakta atau kenyataan, menurut positivism, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta yang ada, sehingga dalam bidang pengetahuan, ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan.[2]  Kesamaan positifistik dengan emirisme seperti yang terjadi di inggris didalam hal ini, bahwa keduanya sama-sama mengutamakan pengalaman, sedangkan perbedaanya adalah positivisme hanya membatasi pada pengalaman-pengalaman obyektif semata, akan tetapi empirisme menggunakan juga pengalaman-pengalaman batiniah (subyektif), selain pengalaman-pengalaman obyektif.[3]
Positivisme sekarang merupakan suatu istilah umum untuk posisi filosofis yang menekankan aspek faktual pengetahuan, khususnya pengetahuan ilmiah. Dan umumnya positifisme menjabarkan peryataan-pernyataan faktual pada suatu landasan pencerapan (sensasi). Atau dengan kata lain, positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu-ilmu alam (empiris) sebagai sumber pengetahuan yang benar dan menolak nilai kognitif dari studi filosofis atau metafisik.[4]
Pendekatan non-positivistik lebih menggunakan penalaran deduktif(rasionalis) dengan penelitian apriori. Bidang yang dikaji adalah ilmu pasti (metafisika dan silogisme)dan persoalan metafisis
Berbeda dengan pendekatan non-positivistik pendekatan positivistik mengandalkan kemampuan yang bersifat empiris.Pada pendekatan ini manusia dituntut untuk menggunakan penalaran yang bersifat induktif,baik berupa eksperimen,observasi dan komparasi. Penelitian ini bertitik pangkal pada data-data partikular yang kemudian rasiolah yang akan menafsirkannya(aposteriori).Positivistik adalah filsafat yang menyatakan keutamaan observasi dalam menilai kebenaran pernyataan atau fakta dan berpendapat bahwa argumentasi metafisik dan subjektif yang tidak didasarkan pada data yang dapat diamati adalah tidak bermakna.
Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur.Peneliti adalah pengamat yang objektif atas peristiwa yang terjadi di dunia.Mereka percaya bahwa variable yang mereka teliti, merupakan suatu yang telah ada di dunia.Hubungan antara variable yang mereka temukan, telah ada sebelumnya untuk dapat diungkapkan.Pengetahuan merupakan pernyataan atas fakta atau keyakinan yang dapat diuji secara empiric.
C.    Positivististik Ausust Comte.
Munculnya aliran filsafat positivisme ini dipelopori oleh seorang filsuf yang bernama August Comte (1798 – 1875), seorang filosof yang lahir di Montpellier Perancis. Comte jugalah yang menciptakan istilah ”sosiologi” sebagai disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat secara ilmiah. Mulai abad 20-an sampai dengan saat ini, aliran positivisme mampu mendominasi wacana ilmu pengetahuan. Aliran ini menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar, yaitu berdasarkan kriteria-kriteriaeksplanatoris dan prediktif.
Untuk dapat memenuhi kriteria-kriteria dimaksud, maka semua ilmu harus mempunyai pandangan dunia positivistik, yaitu :
1.      Objektif. Teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai
2.      Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati.Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan.
3.       Reduksionisme.Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamatidan
4.      Naturalisme. Alam semesta adalah obyek-obyek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam.[5]
Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte(1798-1857) dalam buku utamanya yang berjudul Cours de Philosophic Positive, yaitu kursus tentang filsafat positif (1830-1842)yang diterbitkan dalam enam jilid.
 Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang  kenyataanya lebih daripada sekedar jumlah bagia-bagian yang saling bergantung ,tetapi untuk mengerti kenyataan ini,metode penelitian empiris harus digunakan dengan keyakinan bahwa nasyarakat adalah suatu bagian  dari alam seperti halnya gejala fisik.Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis yang telah dilewati oleh ilmu-ilmu lainya.kemajuan ini mencakup kemajuan teologis purba,penjelasan metafisik,dan akhirnya sampai terbentuknya hukum-hkum ilmiah yang positif.
 Penganut  paham positivisme meyakini bahwa hanya da sedikit perbedaan (jika ada )antara ilmu sosial dan ilmu alam,karena masyarakat  dan kehidupan sosial berdasarkan aturan-aturan,demikian juga alam.
D.    Tahapan Perkembangan Cara Berpikir Positivistik.
Ada tiga tahapan/tingkatan cara berfikir positivistik yaitu: tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif
1.      Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat.Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah.
Pada tahap pemikiran ini terdapat tiga tahap lagi yakni
a.       Tahap primitif : ketika orang menganggap bahwa segala benda berjiwa (animisme).
b.      Tahap pertengahan : Tahap yang menganggap adanya kekuatan adikodrati, sehingga tiap kawasan mempunyai dewa-dewa tersendiri (politeisme).
c.        Tahap tertinggi ; yakni tahap yang mengganti dengan satu tokoh kekuatan tertinggi (monoteisme).
2.      Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam.
3.      Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam.
Hukum tiga zaman atau tiga tahapan ini tidak hanya berlaku pada perkembangan rohani seluruh umat, tapi juga berlaku tiap orang sendiri-sendiri. Misalnya : pada kanak-kanak merupakan tahapan teolog, pemuda merupakan tahapan metafisikus, dn dewasa merupakan tahapan positifikus.
Selkain itu hukum ini juga berlaku di bidang ilmu pengetahuan itu sendiri, yakni segala ilmu pengetahuan semula dikuasai oleh teolog,  dan setelah itu dikeruhkan oleh pemikiran metafisis, dan terakhir di cerahkan oleh hukum-hukum positif pada zaman positifisme yang cerah.[6]

E.     Masalah Positifistik.
Jawaban dalam sejarah filsafat pengetahuan sampai saat ini tidak seragam, salahsatu jawaban yang mendominasi dunia intelektual, pada puncak zaman moden ini adalah zaman pencerahan positivisme dengan tokohnya yakni august comte, mereka ingin menerapkan metode-metode penelitian ilmu-ilmu alam pada selurug wilayah kenyataan termasuk kenyataan sosial.
Lalu apayang dimaksud penerapan metode itu?, sebelumnya kita harus memahami pengandaian dasar dari penelitian ilmu- ilmu alam :
1.      Seorang ahli fisika, biologi, ataupun kimia, mengamati suatu imu di dalam laboratorium dengan sikap berjarak, sebagai obyek belaka, dan mengambil sikap distansi penuh.
2.      Dan dengan distansi penuh maka ia mengerti bahwa hal tersebut bersih dari unsur-unsur subyektif.
3.       Dengan begitu ia dapat memanipulasi obyek dalm eksperimen dengan model sebab-akibat.
4.      Hasil dari merupakan pengetahuan hukum-hukum yang niscaya. Misal : jika air dipanaskan 1000 maka air itu akan mendidih.
5.      Teori yang dihasilkan merupakan pengetahuan yang bebas dari kepentingan dan dapat diterapkan secara universal.
Semua pengandaian tersebut  oleh positifisme sekarang diterapkan di dalam kenyataan ilmu sosial, dan ilmu yang dihasilkan sebagai potret tentang fakta sosial. Dan dapat dipakai oleh siapa saja, karena bersifat universal. Sehingga ilmu sosial bertujuan untuk meramalkan dan mengendalikan proses-proses sosial, sesuai dengan semboyan comte “ savoir pour prevoir” (mengetahui untuk meramalkan). Dengan cara ini, ilmu-ilmu sosial dapat membantu terciptanya susunan masyarakat yang rasional.[7]
F.      C.Metode Serta Contoh Positivistik
Metode yang sering digunakan dalam pendekatan positivistik adalah:
*      Metode siklus empiri (L-H-V) untuk ilmu alam.Misalnya tekanan udara dan pengukuranya,ilmu falak dan system matahari,ilmu kedokteran dan lain-lain.
*      Metode linier untuk ilmu sosial dan humanistik.
dan tentunya memakai sarana berfikir induktif dengan menggunakan logika dan statistika
Contohnya dalam memakai metode siklus empiri (L-H-V) yang menekankan pendekatan positivistik ini untuk ilmu alam yaitu pada Pemuaian.Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena pengaruh perubahan suhu atau bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor.Pemuaian terjadi pada 3 zat yaitu pemuaian pada zat padat, pada zat cair, dan pada zat gas.Pemuaian pada zat padat ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang (untuk satu dimensi), pemuaian luas (dua dimensi) dan pemuaian volume (untuk tiga dimensi).Sedangkan pada zat cair dan zat gas hanya terjadi pemuaian volume saja.
Pemuaian panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor. Pada pemuaian panjang nilai lebar dan tebal sangat kecil dibandingkan dengan nilai panjang benda tersebut.Sehingga lebar dan tebal dianggap tidak ada.Contoh benda yang hanya mengalami pemuaian panjang saja adalah kawat kecil yang panjang sekali.Pemuaian panjang suatu benda dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu panjang awal benda, koefisien muai panjang dan besar perubahan suhu.Koefisien muai panjang suatu benda sendiri dipengaruhi oleh jenis benda atau jenis bahan.
Contoh yang lain adalah Jika emas dipanaskan akan memuai,Tembaga dipanaskan akan memuai,Perak dipanaskan akan memuai.maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jika logam dipanaskan pasti akan memuai.
Sementara contoh pendekatan positivistik yang memakai Metode linier dapat dicontohkan pada kasus yang pernah terjadi di Sragen, Jateng. Polisi menilang pengemudi yang nomor mobilnya ditulis dalam sobekan kertas karton, padahal pengemudi berniat baik setelah pelat nomor asli hilang beberapa saat sebelumnya. Dari pendekatan positivisme, pemasangan nomor polisi terbuat dari kertas karton itu salah dan si pengemudi tersebut ditilang.[8]
G.    Pengaruh positivistik.
Pengaruh filsafat comte yang terbesar adalah terdapat di inggris, seluruh keadaan inggris, baik yang mengenai watak maupun yang mengenai cara berpikir  orag inggris, seolah-olah mewujudkan persiapan yang baik bagi penaburan filsafat comte.
Jalan pemikiran orang inggris, sejak abad pertengahan hingga hume dikuasai oleh empirisme dan orang inggris juga tidak suka akan metafisis. Jadi seluruh perhatiannya dicurahkan kepada hal-hal yang nyata, yang dihadapi sehari-hari.
Selain dari pada hal-hal yang terdapat diatas, pada abad ke-19 inggris memang mengalami zaman tenang. Revolusi kemasyarakatan telah dibelakanginya, sehingga tidak ada ketegangan politik seperti di daratan eropa. Di inggris terdapat kesinambungan kontinuitas dalam pemikiran abad ke-18 dan ke-19. Dengan demikian pemikiran comte tumbuh subur di inggris.[9]
H.     Kritik Atas Positivisme.
Dalam sejarahnya, positivisme dikritik karena generalisasi yang dilakukannya terhadap segala sesuatu dengan menyatakan bahwa semua ”proses dapat direduksi menjadi peristiwa-peristiwa fisiologis, fisika, atau kimia” dan bahwa ”proses-proses sosial dapat direduksi ke dalam hubungan antar tindakan-tindakan individu” dan bahwa ”organisme biologis dapat direduksi kedalam sistem fisika”.

               Kritik juga dilancarkan oleh Max Horkheimer dan teoritisi kritis lain. Kritik ini didasarkan atas dua hal, ketidaktepatan positivisme memahami aksi sosial dan realitas sosial yang digambarkan positivisme terlalu konservatif dan mendukung status quo. Kritik pertama berargumen bahwa positivisme secara sistematis gagal memahami bahwa apa yang mereka sebut sebagai ”fakta-fakta sosial” tidak benar-benar ada dalam realitas objektif, tapi lebih merupakan produk dari kesadaran manusia yang dimediasi secara sosial. Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas sosial dan secara salah menggambarkan objek studinya dengan menjadikan realitas sosial sebagai objek yang eksis secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang tindakannya berpengaruh pada kondisi yang diteliti. Kritik kedua menunjuk positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang mendorongnya berkarakter konservatif. Karakter konservatif ini membuatnya populer di lingkaran politik tertentu.[10]
                             





















BAB III
PENUTUP
Kesimpulannya adalah bahwa pendekatan positivistik mengandalkan kemampuan yang bersifat empiris.Pada pendekatan ini manusia dituntut untuk menggunakan penalaran yang bersifat induktif,baik berupa eksperimen,observasi dan komparasi. Penelitian ini bertitik pangkal pada data-data partikular yang kemudian rasiolah yang akan menafsirkannya(aposteriori).Positivistik adalah filsafat yang menyatakan keutamaan observasi dalam menilai kebenaran pernyataan atau fakta dan berpendapat bahwa argumentasi metafisik dan subjektif yang tidak didasarkan pada data yang dapat diamati adalah tidak bermakna.
Untuk dapat memenuhi kriteria-kriteria,eksplanatoris dan prediktif. maka semua ilmu harus mempunyai pandangan dunia positivistik, yaitu :
1)Objektif. Teori-teori tentang semesta haruslah bebas nilai
2)Fenomenalisme. Ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati.Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan disingkirkan 3) Reduksionisme.Semesta direduksi menjadi fakta-fakta keras yang dapat diamatidan 4) Naturalisme. Alam semesta adalah obyek-obyek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam
Selain itu terdapat juga tiga tahapan/tingkatan cara berfikir positivistik yaitu: tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif : Tingkatan Teologi, Tingkatan Metafisik ,Tingkatan Positif.









DAFTAR PUSTAKA :

Drs.Atang Abdul Hakim,M.A dan Drs.Beni Saebani,M.Si, 2008. Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi, Bandung: Pustaka Setia
Dr. Harun hadiwijoyo,1985, sari sejarah filsafat barat 2, yogyakarta : kanisius
Bagus, lorens, 2002, kamus filsafat, jakarta : gramedia
F. Budi hardiman, 2003,  melampui positivisme dan modernitas. Yogyakarta ; kanisius
http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism   diakses pada tanggal 29, oktober, 2012


[2] Drs.Atang Abdul Hakim,M.A dan Drs.Beni Saebani,M.Si, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi,  cetakan ke-1,Bandung: Pustaka Setia,2008 halaman 296
[3] Dr. Harun hadiwijoyo, sari sejarah filsafat barat 2, yogyakarta : kanisius, halaman : 110
[4] Bagus, lorens , kamus filsafat, jakarta : gramedia, halaman 858
[5] Ibid, halaman 296-297
[6] Ibid halaman : 111
[7] F. Budi hardiman, melampui positivisme dan modernitas. Yogyakarta ; kanisius, halaman 22-23.
[9] Ibid, halaman : 113

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar